Berita  

Pemkab Kuningan dan Bulog Perkuat Sergab untuk Jaga Stabilitas Pangan

Pemkab Kuningan dan Perum Bulog Kantor Cabang Kuningan saat kegiatan Sosialisasi dan Optimalisasi Penyerapan GKP Tahun 2026 di Aula Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan. (4/2/2026)

Mediatrend.id – KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan bersama Perum Bulog memperkuat sinergi dalam mengamankan penyerapan Gabah Kering Panen (GKP) petani pada 2026 guna menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan daerah.

‎Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan Sosialisasi dan Optimalisasi Penyerapan GKP Tahun 2026 yang digelar Perum Bulog di Aula Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan. Rabu (4/2/2026).

‎Pemkab Kuningan melalui Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan, Wahyu Hidayah, menegaskan bahwa penguatan penyerapan GKP menjadi instrumen penting untuk melindungi petani dari praktik tengkulak dan fluktuasi harga yang kerap terjadi saat musim panen.

‎“Setiap musim panen selalu ada potensi permainan harga. Karena itu, kehadiran Bulog dan penguatan koordinasi di lapangan menjadi langkah konkret untuk melindungi petani agar tidak menjual gabah di bawah harga acuan,” ujar Wahyu.

‎Ia menyampaikan, Diskatan telah menginstruksikan seluruh kepala UPTD dan koordinator Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk aktif mengawal petani di lapangan. Pengawalan tersebut meliputi penyaluran gabah melalui jalur resmi serta mendorong petani menjual sesuai Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

‎“Kami ingin petani memiliki kepastian pasar, kepastian harga, dan kepastian mekanisme. Dengan begitu, ruang gerak praktik yang merugikan petani bisa ditekan,” katanya.

‎Wahyu juga menekankan peran strategis Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) sebagai garda terdepan dalam perlindungan petani, mulai dari pendampingan panen, pengawasan mutu GKP, hingga menjadi penghubung antara petani, Bulog, dan aparat kewilayahan.

‎“PPL bukan hanya pendamping teknis, tetapi mitra utama petani dalam menghadapi dinamika pasar,” ujarnya.

‎Menurut Wahyu, sinergi lintas sektor menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas produksi dan kesejahteraan petani. Ia menilai, kepastian harga dan akses pasar akan mendorong keberlanjutan produksi pangan di daerah.

‎“Ketika petani mendapat kepastian harga dan akses pasar yang jelas, maka produksi pangan akan berkelanjutan. Inilah komitmen kami bersama Bulog untuk memastikan panen petani Kuningan berjalan layak dan bermartabat,” tegasnya.

‎Sementara itu, perwakilan Perum Bulog Wilayah Kuningan, Windu Guntara, menjelaskan bahwa penyerapan GKP pada 2026 dilakukan melalui mekanisme terstruktur dan transparan dengan melibatkan gapoktan, PPL, serta pendampingan Babinsa melalui program Serapan Gabah (Sergab).

‎“Bulog hadir memberikan kepastian pasar. Pembayaran dilakukan secara resmi, transparan, dan sesuai ketentuan. Penyerapan juga berbasis data panen yang valid,” kata Windu.

‎Ia menambahkan, tidak semua gabah dapat diserap Bulog. Gabah yang rusak, terendam, menghitam, tercampur benda asing, dipanen sebelum matang optimal, atau telah berkecambah tidak memenuhi syarat penyerapan.

‎Karena itu, petani diimbau memperhatikan waktu panen dan mutu hasil produksi. Panen ideal dilakukan pada umur tanaman sekitar 30–35 hari setelah berbunga dengan tingkat kematangan minimal 95 persen.

‎“Kualitas yang baik akan berdampak langsung pada harga dan rendemen,” ujarnya.

‎Sebagai bagian dari peningkatan layanan, Bulog juga menyosialisasikan sistem jemput GKP. Jadwal penjemputan akan diinformasikan kepada petani, kelompok tani, gapoktan, serta Babinsa melalui Call Center Pengadaan Bulog berbasis WhatsApp, menyesuaikan kapasitas mitra pengolahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *