Mediatrend.id – CIREBON – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Cirebon memastikan kondisi sektor jasa keuangan di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan) pada Triwulan II hingga pertengahan Triwulan III 2025 tetap stabil. Fungsi intermediasi perbankan maupun lembaga keuangan lainnya berjalan baik, meski di beberapa indikator masih terdapat kontraksi.
Kepala OJK Cirebon Agus Muntolib menjelaskan, kinerja 18 Bank Perekonomian Rakyat (BPR) di wilayah ini relatif positif. Penyaluran kredit per Juli 2025 tercatat Rp2,05 triliun. Meski turun 2,21 persen secara tahunan, kinerja ytd justru tumbuh 2,49 persen. Kualitas kredit pun membaik dengan penurunan rasio kredit bermasalah (NPL) baik secara yoy maupun ytd.
Dari sisi aset, BPR menghimpun Rp2,72 triliun, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp2,18 triliun. Sektor perdagangan dan konsumsi masih menjadi tujuan utama penyaluran kredit, dengan kontribusi lebih dari 80 persen.
Sementara itu, 29 Kantor Cabang Bank Umum di Ciayumajakuning membukukan pertumbuhan positif. Per Juni 2025, kredit naik 5,57 persen menjadi Rp52,95 triliun, aset tumbuh 6,16 persen, dan DPK naik 6,43 persen menjadi Rp41,11 triliun. Kredit konsumsi masih mendominasi dengan nilai Rp25,06 triliun, namun kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi.
Kinerja serupa juga tampak pada Bank Umum Syariah. Lima kantor cabang syariah di wilayah OJK Cirebon menyalurkan pembiayaan Rp4,58 triliun atau tumbuh 14,79 persen yoy. Aset dan DPK juga meningkat lebih dari 11 persen.
Pada sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), LKM mengalami kontraksi, sedangkan LKM Syariah dan perusahaan pergadaian justru mencatat pertumbuhan aset. Untuk pasar modal, indikatornya cemerlang: penjualan reksa dana melalui APERD naik 84,76 persen menjadi Rp315,48 miliar, jumlah investor meningkat 12,83 persen menjadi 341 ribu SID, dan transaksi saham melonjak 131,37 persen menjadi Rp2,39 triliun.
Dari sisi pelayanan, sepanjang Januari–Agustus 2025, OJK Cirebon menerima 1.235 layanan konsultasi dan pengaduan. Mayoritas terkait fintech lending dan perbankan umum. Selain itu, sebanyak 7.299 permintaan layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) juga diproses.
Dalam program literasi keuangan, OJK Cirebon telah menggelar 183 kegiatan atau 122 persen dari target 2025. Lebih dari 33 ribu peserta dari berbagai kalangan mengikuti edukasi keuangan, termasuk melalui program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) di Desa Gunung Kuning, Majalengka.
Sebagai wujud komitmen, OJK menegaskan tetap menjaga tata kelola yang bersih dengan melarang gratifikasi dalam bentuk apapun.
“Stabilitas jasa keuangan di Ciayumajakuning tetap kuat. Kami terus mendorong literasi, inklusi, serta penguatan sektor produktif agar masyarakat semakin terlindungi dan berdaya,” jelasnya.












