Berita  

Warga Cirebon Timur Gelar Aksi Demo Jalan Rusak di Tengah Hujan Deras

Mediatrend.id – CIREBON – Warga Kabupaten Cirebon, khususnya dari wilayah Cirebon Timur, menggelar aksi demonstrasi menuntut perbaikan jalan rusak pada Sabtu, 12 April 2025.

Meski diguyur hujan deras sejak pagi, massa tetap melanjutkan aksi sebagai bentuk kekecewaan terhadap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon yang dinilai lalai dalam menangani infrastruktur jalan.

Aksi bertajuk “Aksi Tutup Mulut” ini dilakukan serentak di beberapa titik, di antaranya Desa Gebang Udik, Kecamatan Gebang, depan Pasar Babakan, Kecamatan Babakan, serta Blok Karangwangun, Desa Pabuaran Lor, Kecamatan Pabuaran.

Warga melakukan konvoi menggunakan sepeda motor sembari membawa spanduk-spanduk bernada protes, menuntut agar jalan rusak segera diperbaiki.

Salah satu peserta aksi, dengan perban di kepala akibat kecelakaan yang disebabkan jalan berlubang, menyuarakan keresahannya.

“Cukup kami yang jadi korban. Jangan ada lagi warga yang jatuh karena jalan rusak,” ungkapnya dengan nada geram.

Dalam orasinya, para peserta menuntut Bupati Cirebon, Imron, dan Wakil Bupati, Agus Kurniawan Budiman, untuk turun tangan langsung dan melakukan perbaikan dengan metode pengecoran.

Menurut warga, kondisi tanah yang labil di wilayah tersebut tidak memungkinkan dilakukan perbaikan dengan cara tambal sulam atau pengaspalan biasa.

“Tanah di sini hidup, gampang ambles. Solusinya bukan tambal-tambal, tapi cor permanen,” ujar salah satu orator di lokasi aksi.

Poster dan flayer digital terkait aksi ini telah tersebar luas di media sosial, dengan narasi keras bahwa “Cirebon Timur ditelantarkan Pemkab Cirebon.”

Massa yang mengatasnamakan diri sebagai Wong Cirtim Menggugat juga menantang Bupati dan Wakil Bupati untuk hadir langsung ke lokasi dan merasakan kondisi jalan yang rusak parah.

Sebagai simbol protes, warga juga menanam pohon pisang di tengah jalan rusak dan menutup mulut mereka selama aksi berlangsung-sebuah simbol bahwa mereka sudah bosan dengan janji-janji kosong dan memilih berbicara lewat aksi nyata.

“Kami tidak butuh kata-kata, tapi kenyataan. Tindakan, bukan pernyataan,” tegas seorang koordinator aksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *