Cirebontrend.com – INDRAMAYU – Angin pesisir yang membawa hawa panas berhembus kencang melintasi kawasan bantaran sungai di Desa Cemara Kulon, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Di tengah teriknya sengatan matahari Pantai Utara (Pantura), sayup-sayup terdengar dengung ribuan lebah kecil tanpa sengat (trigona/stingless bee).
Di lahan pesisir yang mulanya tak terolah optimal, sekelompok warga lokal yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Taman Cemara Kulon sedang memintal harapan baru.
Melalui budidaya lebah madu trigona, mereka berikhtiar mengubah tantangan geografis pesisir yang gersang menjadi sumber penghidupan ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat setempat.
Perjalanan budidaya madu ini tak hadir begitu saja. Langkah awal KTH Taman Cemara Kulon dirintis sejak pertengahan tahun 2023.
Kadori, salah seorang penggerak KTH, menuturkan bahwa gagasan ini bermula dari kegiatan pembersihan kawasan pesisir Pantura Tanggul dari deretan tanaman liar yang dianggap tidak produktif.
Eksplorasi tersebut melahirkan ide untuk merintis kegiatan bernilai ekonomi yang ramah lingkungan. Tanpa bekal pengalaman mumpuni dan hanya mengandalkan dana modal swadaya antaranggota, mereka memberanikan diri membeli satu hingga dua kotak sarang berisi koloni lebah (stup).
”Perjalanannya waktu sama teman-teman, kita nyobain lebah dari 2023. Awalnya cuma nyoba-nyoba saja, Mas,” ujar Kadori saat ditemui di area budidaya KTH Taman Cemara Kulon, Indramayu, Jumat (30/10/2026).
Pada fase awal, Kadori dan rekan-rekannya meraba-raba teknik pemeliharaan lebah secara mandiri. Keterbatasan pengetahuan teknis sempat menjadi pemicu keraguan, mengingat lebah trigona membutuhkan ekosistem vegetasi pakan yang tepat agar dapat bertahan hidup dan memproduksi madu.
Titik balik pengembangan budidaya lebah di Cemara Kulon terbuka lebar saat PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) melakukan kunjungan ke lokasi tersebut.
Pihak perusahaan menangkap potensi keseriusan warga dalam mengelola kawasan pesisir dan memutuskan untuk memberikan dukungan pembinaan.
Dukungan tersebut tidak sebatas bantuan fisik, melainkan mencakup peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM).
PHE ONWJ memfasilitasi para anggota KTH untuk mengikuti program studi banding dan pelatihan intensif pemeliharaan lebah madu di Bogor.
”Di sini kita masih awam tentang lebah. Makanya dari awal gimana caranya, lalu kita dibawa sama PHE studi banding ke Bogor. Dari situlah kita punya ilmu sedikit-sedikit,” ungkap Kadori.
Community Relation PHE ONWJ, Hanafi, mengonfirmasi bahwa seluruh intervensi program dirancang berbasis pendekatan partisipatif bersama pemerintah desa, pengurus KTH, dan instansi terkait.
”Dukungan perusahaan mencakup pelatihan budidaya di Bogor dan kajian vegetasi bersama warga, pemerintah desa, KTH, serta pihak terkait sebelum koloni lebah ditempatkan di kawasan ini,” kata Hanafi.
Berbekal wawasan dari hasil belajar di Bogor, koloni lebah mulai diperbanyak hingga kini mencapai 15 stup. KTH mulai memanen madu secara berkala dan mengemasnya ke dalam botol ukuran 100 mililiter yang dijual dengan harga Rp50.000 per botol.
Saat ini, jalur pemasaran utama produk madu murni pesisir ini masih didominasi oleh pesanan para pekerja dan tamu dari lingkungan PHE ONWJ.
Kendati telah berhasil menghasilkan produk yang bernilai jual, perjalanan KTH Taman Cemara Kulon tidak sepenuhnya mulus. Karakter fisik lanskap pesisir Indramayu yang dicirikan oleh suhu panas ekstrem menjadi ujian berat bagi ketahanan koloni lebah.
Tingkat produktivitas madu sangat bergantung pada kondisi cuaca dan ketersediaan nektar bunga dari tanaman di sekitar kawasan.
Kadori mengungkapkan, tren produksi madu melonjak cukup memuaskan saat musim hujan melanda. Dalam kondisi ideal tersebut, satu stup sanggup menghasilkan antara satu hingga dua liter madu saban bulannya.
Namun, keadaan berbalik dramatis kala musim kemarau panjang datang. Suhu udara yang melonjak tinggi membuat pasokan nektar vegetasi pesisir menyusut drastis, yang berdampak langsung pada penurunan volume produksi madu.
”Kalau untuk sekarang, di musim kemarau ini agak lumayan sulit penghasilan dari lebah karena produksinya menurun. Kayaknya, lebah bisa bertahan saja sudah bagus. Kita sudah mencoba berbagai jenis vegetasi untuk mencari tanaman yang cocok di lahan panas. Tapi banyak juga yang enggak kuat,” aku Kadori.
Di tengah penurunan produksi dan tingginya tantangan alam, dari total 20 anggota KTH yang terdaftar, kini tersisa sekitar empat hingga lima orang yang secara konsisten aktif merawat kelangsungan stup-stup lebah tersebut.
Kendati keterlibatan sebagian besar anggota terkendala kesibukan harian masing-masing, Kadori pantang menyerah.
”Karena sayang ya, karena dari awal sudah kita tanam, terus sudah kita laksanakan. Kalau sudah berjalan ditinggalin kan sayang. Jadi, walaupun bagaimana keadaannya, ya harus tetap,” cetusnya penuh rasa tanggung jawab.
Meski demikian, daya tahan koloni trigona di Cemara Kulon terbukti cukup mengagumkan. Pihak PHE ONWJ mengapresiasi resiliensi koloni lebah yang mampu bertahan hidup di tengah terik pesisir.
“Walaupun di tengah perjalanan itu ada saja kendalanya, pas musim panas ekstrem, kemarau yang panjang, alhamdulillah mereka tidak mati. Di sini teruji tidak mati dan malah bisa menghasilkan, ada yang sudah bisa produksi madu,” tegas Hanafi.
Pengembangan budidaya lebah madu trigona ini turut mendapatkan pengawalan mendalam dari otoritas kehutanan daerah.
Pendamping KTH Taman Cemara Kulon dari Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah IX Provinsi Jawa Barat, Musa Musyaffa, menegaskan pentingnya penguatan tiga kewajiban utama KTH.
Tiga pilar tersebut mencakup pengelolaan kelembagaan (peningkatan mutu SDM), pengelolaan kawasan (pemanfaatan lahan secara legal dan berkelanjutan), serta pengelolaan usaha mandiri untuk menjamin keberlangsungan organisasi.
”Kita sebagai pendamping KTH Taman Cemara Kulon secara tupoksi mendorong tiga kewajiban tersebut. Kelola kelembagaan, kelola kawasan di sepanjang bantaran sungai ini, dan kelola usahanya untuk menghidupi kelembagaan,” papar Musa.
Menurut Musa, budidaya lebah madu sangat fleksibel dan dapat diintegrasikan (intercropping) dengan berbagai potensi vegetasi komersial lainnya di lahan yang sama.
”Usahanya itu ya dari tegakan yang ada, dari mangga misalnya tegakan MPTS (Multi Purpose Tree Species) atau buah-buahan. Di bawah tegakannya boleh berusaha juga, nanam timun suri, semangka, atau melon, dan lebah madu juga bagian dari kelola usahanya,” pungkasnya.
Menatap masa depan, Kadori dan kolega di KTH Taman Cemara Kulon tidak sekadar mengimpikan penjualan botolan madu belaka.
Di balik kesederhanaan fasilitas saat ini, mereka memendam cita-cita besar untuk mengubah tapak kawasan pesisir Desa Cemara Kulon menjadi sebuah kawasan destinasi wisata edukasi (eduwisata) terpadu.
Melalui eduwisata tersebut, masyarakat umum dan pelajar kelak tak hanya bisa menikmati keaslian madu trigona, tetapi juga belajar mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir Pantura.
”Iya, menjadi harapan baru. Harapannya desa saya punya tempat kayak eduwisata, lah, Mas,” tutur Kadori menaruh asa pada lembaran masa depan desanya.
Asa Baru dari Pesisir Pantura: Perjuangan KTH Cemara Kulon Menjemput Rezeki Lewat Tetesan Madu Trigona












