Mediatrend.id – INDRAMAYU – Pesona batik complongan, warisan budaya khas pesisir Indramayu, kembali bersinar. Sejak ditetapkan sebagai produk berindikasi geografis pada tahun 2022, batik ini kian menunjukkan eksistensinya, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga mulai menembus pasar nasional berkat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pertamina Refinery Unit (RU) VI Balongan.
Salah satu sosok yang menjadi penggerak kebangkitan batik complongan adalah Indra Susilo, pengusaha lokal sekaligus pemilik Batik Indra. Melalui sentuhan tangan kreatif dan semangat pelestarian budaya, ia terus berinovasi menjaga tradisi yang sudah hidup di Indramayu sejak awal tahun 1900-an.
“Setelah ditetapkan sebagai indikasi geografis, penjualan meningkat tajam. Sertifikat itu membuktikan bahwa batik complongan memiliki kualitas dan karakteristik khas yang diakui secara nasional,” tutur Indra saat ditemui di galeri Batik Indra, Jumat, 29 Agustus 2025.
Batik complongan memiliki keunikan tersendiri — motifnya dibuat dengan cara melubangi kain menggunakan jarum sebelum proses pewarnaan. Lubang-lubang kecil itu kemudian membentuk pola titik-titik yang menjadi identitas khas batik ini.
“Awalnya itu tidak sengaja, tapi hasilnya indah. Sejak itu, teknik complongan jadi ciri khas Indramayu,” ujarnya.
Kisah sukses Batik Indra tak lepas dari peran Pertamina RU VI Balongan yang secara konsisten membina para pelaku UMKM melalui program PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan). Dukungan yang diberikan meliputi bantuan modal, pelatihan, pemasaran digital, hingga peningkatan kualitas kemasan produk.
“Dulu mereka hanya mengandalkan penjualan konvensional. Sekarang sudah bisa berjualan online, ikut pameran, dan mengemas produk dengan lebih profesional,” ungkap Mohamad Zulkifli, Area Manager Communication, Relation & CSR RU VI Balongan.
Keberhasilan ini membuat Batik Indra terpilih untuk mewakili Pertamina RU VI Balongan dan wilayah Jawa Bagian Barat (JBB) dalam pameran nasional di Jakarta. Kesempatan ini diharapkan semakin memperkuat posisi batik complongan di industri tekstil kreatif nasional.
“Dampaknya luar biasa. Nama Indramayu terangkat, Pertamina mendapat citra positif, dan Batik Indra semakin dikenal luas,” kata Zulkifli.
Pertamina juga terus mendorong mitra binaannya agar mendaftarkan hak cipta setiap motif batik, guna melindungi karya dan memperkuat nilai ekonomi produk.
“Kami ingin UMKM sadar pentingnya perlindungan kekayaan intelektual. Setiap motif yang unik harus dilindungi agar tidak diklaim pihak lain,” jelas Zulkifli.
Saat ini, Indramayu memiliki ratusan motif batik, sekitar 50 di antaranya telah resmi terdaftar hak cipta. Salah satu motif yang mencuri perhatian adalah Sawat Riwog, yang meraih juara tiga nasional dalam kontes kain terbaik di Jakarta.
“Motif Sawat Riwog menggambarkan biota laut dan karang. Ini kebanggaan kami, karena asli Indramayu dan sudah terdaftar hak ciptanya,” ujar Indra.
Bagi masyarakat Indramayu, batik complongan bukan sekadar kain, melainkan simbol ketekunan, kreativitas, dan rasa syukur. Melalui pembinaan Pertamina, warisan budaya ini kini menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat pesisir.
“Kami tidak hanya membina dari sisi usaha, tapi juga menjaga nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Batik Indra adalah bukti bahwa budaya bisa tumbuh seiring kemajuan ekonomi,” pungkas Zulkifli.
Dengan sinergi antara pengrajin, pemerintah daerah, dan perusahaan seperti Pertamina, Batik Complongan Indramayu kini menjadi ikon baru kebanggaan daerah — mengukir jejak dari warisan leluhur menuju masa depan yang lebih berdaya dan berkelas dunia.












